Someday

As days go by
and fade to nights
I still question
why you left
I wonder how
it didn’t work out
but now you’re gone
and memories all I have for now
but no it’s not over
we’ll get older we’ll get over
we’ll live to see the day that I hope for
come back to me
I still believe that
we’ll get it right again Continue reading

sebuah wacana ringan

Kemarin disela-sela hari, perjalanan, dan waktu ku dihadapkan pada sebuah wacana yang kufikir cukup untuk dijadikan bahan perbincangan untuk sekedar melewati pagi ini dengan segelas besar teh hanga mas Pon yang rasa manisnya pas.

Dibalik keramaian dan keramahan pemilik warung itu walaupun pura-pura tak terlibat aku sebenarnya menyimak apa kata mereka, perbincangan ringan namun penuh dengan gelak tawa seakan hilang beban berat setoran becak hari ini.

Continue reading

Jangan cuma kagum

Beberapa hari lalu saya kebetulan disuguhi sebuah buku karya ust.felix yang terbaru tentang habit, isinya ringan dan bahasanyapun mudah dipahami.

Dari pesan dalam buku itu saya jadi teringat dengan ustadz saya waktu kami masih anak-anak, saat itu tepatnya kami masih duduk di Sekolah Dasar, karena berada di kampung maka tekhnologi saat itu belum menjamah kami, hari-hari yang kami laluipun penuh dengan kebersamaan, aktifitas yang kami lakukan cukup terjadwal dengan rapih walaupun kami tak pernah menyengaja menulisnya, tau kenapa karena kami dididik oleh beliau dengan sesuatu yang rutin yang membuat kami biasa seperti ini misalnya, jadwal mengaji tiap sore, malam, subuh. Malam jumat ada pengajian keliling, tiap hari minggu pun demikian dan kami merasa tiap anak di kampung kami hampir tak ada yang tidak ikut serta tau kenapa? Bukan karena sanksi atau apapun itu namun kontrol masyarakat saat itu sangat kuat, hingga ada istilah tabu kalau masih muda, remaja dan belum menikah tak ngaji.

Continue reading

coba baca ini,

Saya fikir artikel sederhana ini pantas untuk saya tulis ulang dalam blog ini dengan harapan lebih banyak yang menkonsumsinya, karena isinya cukup telak menyindir dengan harapan tentu sebagai renungan perubahan, artikel ini ditulis oleh ust. Arief B.I. yang dimuat dalam majalah al-wa’ie edisi april 2012.

**

Semua orang menjunjung tinggi Demokrasi, semua orang merasa salah, bodoh, jika ragu terhadap Demokrasi

Demokrasi itu harga mati, Demokrasi itu kebenaran sejati, Demokrasi itu prinsip yang mutlak, pedoman kehidupan yang tidak boleh ditolak, tidak boleh dipertanyakan, bahkan sedikitpun tidak boleh diragukan.

Continue reading

mencari yang soleh

Kadang iseng saya bertanya dengan teman-teman, “apa sih kriteria calon pendampingmu?” dan biasanya kriterianya standar namun ada saja beberapa yang agak sedikit diluar standar keumuman.

Bisa dikatakan menentukan pilihan seperti ini tidaklah mudah ditengah lingkungan yang mengadopsi sekulerisme sebagai standar keumuman. Bisa dibayangkan anak siapapun dia, kiyai sekalipun, tidak menjadi jaminan terlepas dari pergaulan yang hedonis saat ini, karena saat ingin lepas dari bayang-bayang hedonisme maka siap-siap saja dianggap kampungan karena ga moderen oleh lingkungannya.

“Jangan mencari kesempurnaan karena tidak ada satu mahlukpun di dunia ini yangsempurna”, seloroh seorang teman.

Saya setuju dengan pendapat itu namun menurut saya, saat memilih bukan mencari kesempurnaan, namun yang dicari adalah ketaqwaan. Kalau dibahasakan umumnya cari yang soleh.

Continue reading

Sampai dimana ya?

Sudah berada dilevel mana kamu hari ini  tri ?

Pertanyaan sederhana ini pernah membuat saya bingung untuk menjawabnya. Bingung bukan karena tak tahu jawabannya namun bingung untuk memulai dengan kata-kata apa untuk menjawabnya.

Saya sendiri sering mempertanyakan pertanyaan ini kepada diri sendiri, sembari menatap dalam sebuah buku biru dengan cover bertuliskan “my dream book 2012” yang ada di depan saya saat itu. Sembari sesekali tersenyum dan juga kadang sedikit kecewa, saya buka selembar demi selembar dan coba di hayati kalimat perkalimat dalam paragraf yang tersusun tak beraturan dan ramai dengan tinta warna-warni.

Continue reading

elegi impian kesejahteraan part 1

Pagi ini cuaca cukup melow, dengan taburan hujan gerimis dan lantunan melodi romantis mengiringi datangnya pembeli pagi ini.

Seperti biasanya jika cuaca begini pengunjung agak sedikit malas untuk sekedar keluar menikmati pagi sembari melengkapi kebutuhan alat tulisnya yang mulai menipis karena sudah lama tak diganti.

Tidak benar-benar sepi sebenarnya, sesekali masih ada saja yang tergopoh-gopoh mengunjungi toko untuk mencari keperluan karena takut tertinggal oleh putaran jarum jam yang belum sempat berhenti dari tadi malam.

Dia datang,
seorang laki-laki berumur sekitar 60an tahun dengan tangan kanannya terus tak mau diam karena parkinson yang dideritany menghampiriku, sembari sesekali kami bertanya kabar dan saling menyapa ringan.
Continue reading

jalan yang salah

kalau sudah memilih, memang sukar untuk pindah kelain hati”, kata seorang teman dalam obrolan di warung pak Ano’ malam tadi. Obrolan yang bertema seputar komitmen dan pencapaian dalam ihidup.

Saya cukup menyimak sebuah cerita mengenai seorang pria yang begitu terobsesi dengan seorang wanita, hingga menjadi tak berdaya saat obsesinya itu tak mendapat sambutan yang baik oleh sipujaan hati, memang nampak malang sepertinya episode pria itu, kegalauan menyelimuti hari-harinya yang diingatnya cuma satu, dia yang terbaik katanya, karena episode sedih itu membuat sikapnya gamang untuk menentukan pilihan-pilihan lain dalam hidupnya kini.

Sambil membayang saya teringat dengan sebuah pernyataan dalam forum kajian beberapa bulan lalu, “kita itu bodoh !, dan karena kebodohan itulah kadang kita sering tersesat”.

Continue reading

Pokoknya Bisa Nonton lady gaga

Pokokonya bisa nonton lady gaga, begitulah salah satu tulisan yang muncul di salah satu media cetak nasional  pagi ini, tampaknya gema kedatangan penyanyi asal Amerika Serikat itu membuat ribuan orang rela mengantre tiket konsernya, bahkan hujan deras yang mengguyur Jakarta kemarin tidak menyurutkan niat para penggemar artis yang selalu berpenampilan seronok ini. Bahkan mereka rela merogoh kocengnya cukup lumayan hanya untuk menonton aksi panggung artis yang seronok ini, bisa di bayangkan harga tiketnya saja dibandrol Rp. 465.000 sampai Rp. 2.250.000, bukan merasa rugi tapi duyunan para pengantri itu malah nampak sumringah dan bersemangat.

Saya jadi cukup tergeleng membaca berita ini, bagaimana banyak orang dengan bangga dan puas melakukan kemaksiatan. Saya sempet berfikir sejenak tentang tulisan saya tadi malam tentang gambaran ketiadaan Khilafah yang akan menjadi pembebas itu. Saya rasa Rosululloh, para sahabat, dan para pendahulu Islam pasti akan menangis jika melihat umat yang akhir zaman ini bukan meneruskan perjuangan mereka malah menodai dan melumurinya dengan kemanksiatan. Memang cukup signifikan sekali dampak dari ketiadaan Khilafah bagi ummat bagaimana digambarkan ummat Muslim kini seperti anak ayam yang kehilangan induknya, terombang-ambing mencari perlindungan, hanya untuk bisa hidup dan bertahan tak perduli mau dicekoki oleh pemikiran apa yang jelas bisa hidup layak, mungkin gambarannya demikian alhasil didikannyapun mengakibatkan kamu Muslim kini nampak soleh di Majelis namun begitu bejad diluar, naudzubillah, semoga Allah swt. Memaafkan kita, menyadarkan mereka dan membuat para pejuang Islam semakin militan mendakwahkan Islam yang benar. Continue reading