Meringisi KemerDekaaN

Saat ini negeri tercinta kita genap berusa 66th kalaulah diibaratkan umur manusia 66th merupakan umur yang sangat matang bahkan sudah sangat sepuh [tua]

Berbicara kemerdekaan tahun ini memang terasa berbeda tak semeriah biasanya, salah satu alasan utamanya tentu sudah dapat kita tebak yaitu ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, hingga mungkin membuat kebanyakan orang enggan untuk melakukan aksi biasanya seperti lomba-lomba langganan 17an karena tentu ini akan menguras cukup banyak tenaga walaupun disisi lain masih ada juga yang merayakan dengan panjat pinang [ah.., nekat sekali ini orang?]

Selain itu, kurang meriahnya peringatan 17an tahun ini juga bukan karena rendahnya rasa nasionalisme bangsa tetapi ini diduga kuat karena skala  prioritas masyarakat yang mulai ketat, terkait dengan harga-harga yang makin hari makin naik, hingga membuat sebagian masyarakat  enggan untuk berbelanja keperluan yang sifatnya dirasa kurang bermanfaat. 

Ini bukan rahasia umum lagi bahwa angka kemiskinan di negeri ini memang masih tetap tinggi. Dari 237 juta lebih penduduk negeri ini, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) masih ada 31,02 juta jiwa yang terkategori miskin, yaitu yang pengeluarannya kurang dari Rp 211.726,-/bulan atau Rp 7 ribu/hari. Padahal jumlah itu hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi dengan lauk yang ala kadarnya.

Hal ini juga sejalan dengan kondisi dunia kerja saat ini dimana Angka pengangguran juga masih tinggi. Menurut Kepala BPS Rusman Heriawan, angka pe­ng­angguran Indonesia pada Feb­ruari 2011 mencapai 8,1 juta orang atau 6,8 % dari total angkatan kerja 119,4 juta orang (Rakyatmerdekaonline, 6/5).

Negeri ini pun masih dibelenggu kebodohan. Mengutip data Kemendikas pada 2010, ketua PA Arist Merdeka Sirait menyebutkan, masih terdapat 11,7 juta anak usia sekolah yang belum tersentuh pendidikan (Republika, 25/7).

Tak ketinggalan, APBN yang 80% bersumber dari pajak rakyat, sebagian besarnya justru tidak kembali kepada rakyat. Pasalnya, sebagian dirampok oleh para koruptor, sebagian untuk membayar utang dan bunganya yang bisa mencapai 20 % dari APBN, dan sebagian lagi untuk membiayai kebijakan yang tidak pro-rakyat. Menurut data Kompas (15/8) belanja pegawai pusat dan daerah memakan porsi sangat besar, yakni sekitar 60 % dari total volume APBN dan APBD, sementara untuk subsidi hanya sekitar 14 % dan untuk belanja pembangunan hanya sekitar 12 %.

Melihat fakta ini layakkah kita menyebut negara Merdeka? masih pantaskah kita bersorak soray merayakan kemerdekaan dengan berhura-hura.

Taukah kita, rakyat negeri ini sesungguhnya masih terjajah oleh negara-negara asing lewat tangan-tangan para pengkhianat di negeri ini. Mereka adalah para komprador lokal yang terdiri dari para penguasa, politikus, wakil rakyat dan intelektual yang lebih loyal pada kepentingan asing karena syahwat kekuasaan dan kebutuhan pragmatisnya. Akibatnya, rakyat sengsara di negerinya sendiri yang amat kaya. Mereka terjajah oleh asing dan para pemimpinnya sendiri yang menjadi antek-antek kepentingan negara penjajah.

Akar masalah semua itu karena diadopsinya sistem kapitalisme demokrasi yang bersumber dari manusia seraya meninggalkan sistem dan hukum yang dibawa oleh Nabi saw di dalam al-Quran dan as-Sunnah. Akibatnya, negeri ini masih terjajah dan didera berbagai penderitaan, keterpurukan, keterbelakangan, dsb. Itulah cerminan kehidupan yang sempit yang telah diperingatkan oleh Allah SWT dalam firmanNya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaha [20]:124)

Oleh karena itu maka sudah seharusnya kita kini mulai bergerak bersama membangun negeri dengan landasan yang sahih Hal itu tidak lain dengan jalan menerapkan hukum-hukumnya yaitu syariah Islam secara total dalam bingkai sistem Islam, al-Khilafah ar-Rasyidah. Dengan itu niscaya kerahmatan akan menjadi riil dan kemerdekaan yang hakiki akan terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s