ayo kita perbaiki

Jika kita mau menilik sejenak terkait dengan siapa diri kita maka dapat kita sedikit ketahui bahwa dalam diri ini ketidak sempurnaan itu ada, muncul dan juga nampak namun terkait dengan  terlihat atau tidak itu urusan yang lain karena sejatinya kita tentu paham terkait dengan diri kita sendiri namun ini menjadi lain jika yang menilai itu orang lain, maka bersyukurlah kita pada Allah karena jika hari ini kita terbebas dari penafsiran buruk orang lain dan bersyukurlah jika hari ini Allah masih menutupi keburukan kita.

Tempo hari saat berbicang dengan seorang teman diujung belahan dunia sana ada banyak ibroh yang bisa saya ambil salah satunya adalah terkait dengan aib.

Menurut hadits rosululoh saw. Beliau menyebutkan :

“Dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim niscaya Allah swt. menutupi aibnya di dunia dan di akherat” (HR. Muslim, At- tirmidzi dan iAbu daud) baca lengkap bisa disini

Menilik hadits tersebut diatas saya mengambil sedikit perspektif yang lebih luas bahwa sebenarnya semua mahluk Allah di dunia ini tak ada yang benar-benar sempurna oleh karena itu saya sedikit simpulkan bahwa sebenarnya sesoleh apapun seorang manusia pasti dia pernah punya sisis ketidak taatan oleh karena itu bersyukur merupan sesuatu yang jitu untuk menyampaikan bahwa kita sangat berterimakasih kepada nikmat Allah swt. Banyak contoh yang bisa kita abil dari kejadian-kejadian disekitar kita bagaimana banyak orang yang kaya ilmu, kaya harta  kaya jabatan namun malah terpuruk dengan kekayaan yang dimilikinya.

Beruntunglah kita saat sampai detik ini Allah masih menutupi keburukan kita dengan sangat rapih, namun tak juga sedikit diantara kita yang malah dengan bangga menyampaikann keburukan –keburukannya dimuka umum dengan tidak malu sedikitpun.

Ingatlah saudara pembaca sekalian bahwa Islam sangat berhati-hati sekali dalam menetapkan urusan manusia dan detile sehingga Islam memberikan ketentuan bahwa Kita dilarang keras untuk ghibah

Apa ghibah itu ? Ghibah adalah menceritakan saudara kita dengan sesuatu
yang tidak disukainya. Apabila yang kita ceritakan itu tidak ada padanya, maka disebut (fitnah). Kedunya sama-sama
diharamkan. Dalilnya adalah:
 Allah berfirman:

“…Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(TQS. al-Hujurat[49]: 12).

Dan kadang ini banyak kita lupakan hanya dengan alasan bahwa kejadian ini adalah nyata maka kita dengan begitu bangga menyampaikannya di muka umum. Namun ingatlah bahwa Rosullulloh saw. yang kita teladanipun menyampaikan bahwa Dari Abû Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

Tahukah kalian apa ghibah itu? Para sahabat berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah saw. bersabda, “Ghibahadalah jika engkau menceritakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai.” Para sahabat berkata, “Bagaimana pendapat engkau jika apa yang kukatakan itu ada padanya?” Rasulullah saw. bersabda, “Apabila apa yang kau katakan ada padanya, maka
engkau telah menggunjingnya. Apabila yang engkau katakan tidak ada padanya, maka engkau telah mengatakan atas seorang muslim hal-hal yang tidak ada padanya (al-buhtaan).” (HR. Muslim).

Namun perlu juga kita batasai bahwa ternyata ghibah itu berbeda dengan menyampaikan keburukan penguasa karena hal yang demikiann adalah amal ma`ruf nahi munkar sehinga ini merupakan sesuatu yang lain. Para ulama telah membolehkan ghîbah karena enam alasan yaitu, 1. mengadukan kedzaliman, 2. menjadikan ghîbah sebagai jalan untuk mengubah kemunkaran, 3. meminta fatwa, 4. memberikan peringatan kepada kaum Muslim dari kejahatan (hal ini termasuk
dalam kategori nasihat), 5. menceritakan orang yang terang-terangan
melakukan kefasikan dan bid’ah, dan 6. karena memperkenalkan
seseorang.

Imam an-Nawawi berkata dalam kitab al-Adzkar, “Kebanyakan dari sebab-sebab ini telah disepakati sebagai sebab kebolehan ghibah.” Beliau berkata, “Dalil-dalilnya sangat jelas dari hadits-hadits shahih dan masyhur.” Beliau juga telah mengulangi pembahasan tentang ghîbah ini dalam kitab Riyâdhush Shâlihîn.
Dalam kitab ini beliau menceritakan sebagian dalil-dalilnya. Ash-Shan’ani juga telah menceritakan masalah ghibah ini dalam kitab Subulus Salâm. Al-Qarafi berkata dalam adz-Dzakhirah, “Sebagian ulama berkata ada lima perkara yang dikecualikan dari ghibah, yaitu nasihat, mencari rawi dan saksi yang cacat atau yang sehat,
orang yang terang-terangan melakukan kefasikan, para pelaku bid’ah, pengarang-pengarang yang menyesatkan, dan ketika orang yang menggunjing dan yang digunjingkan telah sama-sama mengetahui topik pergunjingannya.”

semoga menjadi renungan semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s