mengintip suryalaya lebih dekat

Akhir minggu kemarin saya mencoba kembali untuk meng eksplor keinginan yang terus bergejolak dalam jiwa ini yaitu keinginan untuk traveling.Saat itulah tepat pukul 10.30 kami memberanikan diri untuk memberhentikan sebuah mobil jurusan lebak bulus –tasik malaya tanpa ragu dan bimbang kami berduyun-duyun dengan penumpang lain memasuki bis primajasa itu.

Perjalanan ini cukup asing bagi ku karena ini kali pertama aku pergi kekota kecil itu tasik malaya, semua rasa ingin tahu membuncah tak terbendung rasa ingin segera tiba pun tak kalah menungu untuk segera sampai aku sudah menjelajah jauh kesana ke negeri angan-anganku tentang segala bentuk agenda yang akan aku lakukan nanti disana.

Teman perjalanan ku adalah seorang warga tasik asli yang lahir dan besar disana dan inilah salah satu yang membuatku semangat untuk segera sampai, beliau bercerita panjang lebar tentang tasik di masanya dulu (baca;masa muda) namun anganku sedikit terhenti saat aku ingat pesan bapak dulu sebuah pesan tersirat yang nampak tak bisa terlupa tentang kesan beliau saat mengunjungi pesantren dengan jamaah tarikat terbesar se asia tenggara, dan aku putuskan berhenti sejenak mencari tahu dan mengagumi kota tasik dan memutuskan untuk membujuk teman perjalananku itu dengan memancing bertanya tentang suryalaya, dan aneh tak disangka suryalaya adalah nama yang asing baginya? Padahal orang tuaku yang jauh di sebrang pulau sana rela untuk datang ke surya laya namun orang tasik sendiri tak begitu antusias terlihat dari ketidak tahuannya tentang tempat itu, namun ini merupakan salah satu juga yang membuat dia penasaran dan ikut dengan ku mampir sejenak ke pondok pesantren itu.

Perjalanan menuju kota tasik kami alihkan sejenak kami turun di ciawi, ciawi adalah salah satu daerah yang berada di kabupaten tasik malaya tepatnya berada sebelum kota tasik malaya jika menempuh perjalanan via malangbong kabupaten garut . setelah kurang lebih 1,5 jam perjalanan kami sampai juga di sebuah daerah yaitu ciawi, langkah kami mantap dan segera tanpa pikir panjang kami langsung menaiki ANGDES (angkutan pedesaan) dengan jarak perjalanan sekitar 5-6 km dari jalan utama menuju pesantren itu. Oiya hati-hati jika baru pertama kali datang ke sana menggunakan angkutan umum karena ongkos bisa dinaikkan semena-mena sampai 2 kali lipat lebih padahal ongkos normal hanya 4 ribu rupiah.

Sesampainya di suryalaya membuat rasa penasaran ku menjadi membiasa karena tak seperti yang ku bayangkan selama ini? Surya laya tak semegah kabarnya tempat ini cukup sederhana dengan masjid yang bersih namun tak begitu besar karena jika dibandingkan dengan masij agung tasik masih kalah besar namun masjid di pesantren yang jamaahnya besar itu sangat terawat rapih, bersih dan terkesan lega serta segar sehingga membuatku betah untuk berlama-lama menikmati pesona yang ditawarkan pesantren ini. Kebetulan saat aku menginjakkan pesantren itu suasananya memang sedang sangat sepi hingga aku dan temanku saat itu bisa mengelilingi kompleks pesantren walau tak semuanya dengan leluasa, saat itu aku bertemu dengan pak soma seorang penjaga yang kesehariannya menjaga keamanan kompleks masjid suryalaya ini, darinya aku sedikit dapat gambaran tentang rentetan aktifitas keseharian disana dan juga beberapa kisah yang sepertinya sedikit berbau mistis terkait dengan tempat ini. Cukup menakjubkan walau tak begitu menyeluruh terkait dengan penjelasan yang disampaikan namun informsi ini sudah cukup membuatku lega dan sebelum beranjak meninggalkan pesantren itu aku sedikit dibuat penasaran dengan dua bangunan unik yang ada di atas masjid itu dan kuberanikan untuk bertanya berharap rasa penasaranku terjawab, dan benar saja pertanyaanku dijawab lebih dari cukup dan aku bersama temankupun diizinkan untuk memasuki dua bangunan itu tanpa pikir panjang aku langkahkan kaki menuju dua bangunan yang membuatku penasaran, bangunan itu berada tepat di depan atas masjid dengan anak tangga yang cukup banyak hingga aku dan temanku harus bersusah payah menaikinya . disana aku bertemu dengan lelaki paruh baya yang bernama aki` fadly umurnya 80 tahun namun dari keceriyaannya sepertinya dia lupa akan umurnya yang sudah makin tua itu. Dan bahkan mungkin sudah lupa dengan kerutan di wajahdan dan sekujur tubuhnya yang makin nampak begitu jelas membuatnya tak segar lagi. Banyak cerita yang beliau sampaikan dari mulai tingkah polah para pengunjung makam yang kadang penuh aroma mistis dan juga ada yang hanya datang untuk berdoa namun sangat jarang yang datang seperti kami hari itu, yang datang hanya untuk mengobrol dengannya hari tanpa tertarik sedikitpun untuk berdoa atau memohon sesuatu agar dapat berkah, kami tak percaya itu karena menurut kami jika mau berdoa ya sama Allah swt langsung saja ga perlu perantara.

Hari itu kami belajar banyak tentang kehidupan dari aki` fadli yang senantiasa optimis menatap masa depan yang tak pernah lupa dengan  akan tugasnya dan selalu yakin bahwa pertolongan Allah itu dekat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s