jalan yang salah

kalau sudah memilih, memang sukar untuk pindah kelain hati”, kata seorang teman dalam obrolan di warung pak Ano’ malam tadi. Obrolan yang bertema seputar komitmen dan pencapaian dalam ihidup.

Saya cukup menyimak sebuah cerita mengenai seorang pria yang begitu terobsesi dengan seorang wanita, hingga menjadi tak berdaya saat obsesinya itu tak mendapat sambutan yang baik oleh sipujaan hati, memang nampak malang sepertinya episode pria itu, kegalauan menyelimuti hari-harinya yang diingatnya cuma satu, dia yang terbaik katanya, karena episode sedih itu membuat sikapnya gamang untuk menentukan pilihan-pilihan lain dalam hidupnya kini.

Sambil membayang saya teringat dengan sebuah pernyataan dalam forum kajian beberapa bulan lalu, “kita itu bodoh !, dan karena kebodohan itulah kadang kita sering tersesat”.

Kebodohan yang membuat kita merasa tahu segalanya. Bukankah Allah swt. telah mengingatkan kita? tentang pilihan-pilihan, kadang kita merasa paling bijak dengan menganggap sesuatu yang kita pilih adalah yang terbaik buat kita, padahal belum tentu menurut Allah swt. atau sebaliknya.

Seorang teman pernah berpendapat seperti ini, “kalau kamu ingin sekali menikah dengan pilihanmu, ya direalisasikan dong…!” , katanya. Bukan hanya ingin dan malah menjadikan bergelimang dosa karena terjerumus dalam sebuah interaksi-interaksi intens yang tak kita sadari malah akan membuat kita tersangkut dalam kemaksiatan nantinya.

“tapikan, saya belum siap mas kalau harus secepatnya, inikan juga sebuah langkah menujukesana mas!”, sergahnya dengan enteng sambil merubah posisi yang menunjukkan bentuk keseriusannya.

Saya tanya sama kamu “kamu itu memilih dia dengan Iman atau memilihnya karena nafsu semata?, karena merasa dia adalah yang terbaik secara kasat mata, hingga membuatmu tergila-gila sampai-sampai tak rela jika pilihanmu itu dimiliki orang lain, dengan menempuh jalan yang salah seperti ini?”, kataku dengan nada sedikit meninggi.

Seorang Muslim itu pantang sekali untuk melakukan tindakan ceroboh [baca; maksiyat] kenapa demikian? hal ini karena seorang Muslim itu orang yang takut dengan Sang penciptanya sehingga ketaatan kepada hukum syara’ itu menjadi nomer wahid yang harus diperhatikan olehnya.

Innamal a’malu binniyah” , segala sesuatu itu tergantung dari niatnya, begitulah agama ini mengajarkan. Kalau memang tujuan kita itu untuk mensempurnakan sebagian dari agama ini, ya.., lakukanlah dengan jalan yang benar. Jika niatnya ingin beribadah, maka lakukanlah sesuai dengan petunjuk Allah swt dan Rasululloh. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya dan juga para pembaca sekalian terimakasih. [jtn1203]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s