elegi impian kesejahteraan part 1

Pagi ini cuaca cukup melow, dengan taburan hujan gerimis dan lantunan melodi romantis mengiringi datangnya pembeli pagi ini.

Seperti biasanya jika cuaca begini pengunjung agak sedikit malas untuk sekedar keluar menikmati pagi sembari melengkapi kebutuhan alat tulisnya yang mulai menipis karena sudah lama tak diganti.

Tidak benar-benar sepi sebenarnya, sesekali masih ada saja yang tergopoh-gopoh mengunjungi toko untuk mencari keperluan karena takut tertinggal oleh putaran jarum jam yang belum sempat berhenti dari tadi malam.

Dia datang,
seorang laki-laki berumur sekitar 60an tahun dengan tangan kanannya terus tak mau diam karena parkinson yang dideritany menghampiriku, sembari sesekali kami bertanya kabar dan saling menyapa ringan.

Hampir tak berbeda kondisi lelaki tua itu hari ini dengan sebelumnya, dengan topi lusuh, berbalut pakaian sedikit kumal sepasang sandal jepit dan tas dipunggungnya, entah apa isinya namun tas itu terlihat selalu penuh yang membuat lelaki tua itu harus berjan sedikit membungkuk karena beban yang cukup membuat tegang beberapa otot di punggungnya.

Aku gak pernah tau siapa nama lelaki tua itu, yang seharusnya tak usah mencari uang lagi karena sudah saatnya menikmati masa-masa istirahatnya dan bermain bersama dengan cucu-cucunya dirumah.

Sedikit kesal itu yang aku rasa kemana anak-anaknya? Seperti tidak ada rasa tanggung jawab saja kepada orang tuanya.

Kemana pemimpin negeri ini? Dulu saja saat khalifah Umar ra menjadi kepala negara khilafah beliau sampai -sampai jarang tidur pulas karena khawatir ada lubang jalan yang bisa berakibat buruk (membuat celaka) pada rakyatnya, namun sekarang para pemimpin wakil rakyat negeri ini tertidur pulas karena terlalu asyik dengan gelimangan harta dan kekuasaan dan menutup mata dengan nasib rakyatnya. Bagaimana tidak?! kesejahteraan yang seharusnya menjadi hak rakyat dan diusahakan oleh negara kini hanya sekedar tulisan dan angan-angan. Beginilah buah dari sistem negara kapitalis, kekuatan, kekuasaan hanya akan berpihak pada pemilik modal, Siapa yang punya kapital Dialah yang menang.

Agama hanya sekedar pelengkap kehidupan, dan pemanis jiwa yang galau, begitulah sekulerisme saat diterapkan, membuat ketaatan hanya berupa angan-angan, keimananpun  menjadi tergadaikan.

Begitu bahayanya kapitalisme ini, membuat peminpin bermental penipu, dan membuat rakyatnya bermental tempe. Pengemis dimana-mana, dari yang lanjut usia, yang muda, bahkan yang balita, semua ada pria wanita mereka tak peduli mau disebut apa yang penting

“bisa dapat uang cepat, mudah, dan ga perlu susah payah”

Begitulah kenyataannya, seperti hari ini, seorang laki-laki sehat dg usia kurang lebih 30th datang, dengan aksen penuh harap, ditambah dengan make up compang camping meminta belas kasih.

Kenapa…., kenapa harus begini para generasi abad ini, ya Allah, begitu terhinanyakah kami hambaMu, saat kami tak kuasa memegang agama Mu?
….(..!..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s