coba baca ini,

Saya fikir artikel sederhana ini pantas untuk saya tulis ulang dalam blog ini dengan harapan lebih banyak yang menkonsumsinya, karena isinya cukup telak menyindir dengan harapan tentu sebagai renungan perubahan, artikel ini ditulis oleh ust. Arief B.I. yang dimuat dalam majalah al-wa’ie edisi april 2012.

**

Semua orang menjunjung tinggi Demokrasi, semua orang merasa salah, bodoh, jika ragu terhadap Demokrasi

Demokrasi itu harga mati, Demokrasi itu kebenaran sejati, Demokrasi itu prinsip yang mutlak, pedoman kehidupan yang tidak boleh ditolak, tidak boleh dipertanyakan, bahkan sedikitpun tidak boleh diragukan.

Al Quran boleh bilang bahwa dirinya la roiba fih [tidak ada keraguan padanya] Namun menurut UU dinegertiku orang boleh meragukan Al Quran; bahkan terdapat kecenderungan pdikologis empirik untuk menganjurkan secara implisit sebaiknya orang menolak dan membenci Al Quran.

Namun, tidak boleh bersikap demikian terhadap Demokrasi. Di dalam praktik konstitusi negeriku Demokrasi lebih tinggi dari pada Tuhan. Tuhan hanya berposisi dalam lingkup hak pribadi setiap orang, sedangkan Demokrasi terletak pada kewajiban bersama. Orang tidak ditangkap karena menghina Tuhan, tetapi berhadapan dengan aparat hukum kalau berani menolak Demokrasi.

Itulah realitas nyata Demokrasi dan para pengusungnya, barangkali itulah salah satu gambaran yang diisyaratkan Baginda nabi saw. ;

Akan datang kepada umat manusia tahun-tahun yang penuh tipudaya. Di dalamnya para pendusta dianggap benar, sementara orang-orang benar dianggap pendusta, di dalamnya para penghianat dianggap amanah, sementara orang-orang amanah dianggap pengkhianat…HR.IBN MAJAH

Maka dari itu, dalam sistem demokrasi orang bebas ngomong apapun, kecuali Syariah Islam; orang bebas melakukan apapun, kecuali yang mencerminkan Islam. Silahkan menghina Nabi saw. , membakar Al Quran atau menodai Agama. Namun, jangan sekali-kali menghina presiden, melecehkannya, apalagi sampai membanting fotonya itu adalah tindakan kriminal, karena presiden dipilih rakyat, sementara rakyat adalah pemilik sejati kedaulatan dalam demokrasi.

Dalam demokrasi silahkan para wanita berpakaian mini, berbusana seksi, bahkan telanjang sama sekali. Itu adalah salah satu bentuk kebebasan yang dijamin demokrasi. Sebaliknya, tidak boleh wanita memakai jilbab atau hijab karena itu berarti mengancam kebebasan dan keragaman yang menjadi ciri khas demokrasi.

Silahkan saja banyak orang berzina dengan banyak perempuan karena itu dijamin UU. Yang tidak boleh adalah berpoligami karena poligami menindas perempuan dan melanggar HAM.

Dalam demokrasi di negeri ini, presiden boleh berkeluh-kesah setiap saat merasa terancam, meski itu baru sebatas anggapan yang bersangkutan. Sebaliknya, rakyat dituntut selalu tabah meski nyata-nyata terancam mati kelaparan. Mereka harus menerima apapun kebijakan pemerintah, termasuk dalam mengurangi subsidi BBM, yang tentu makin menyengsarakan.

Pertanyaannya, sebagai muslim, apalagi pengembandakwah ;

Akankah semua bentuk kebohongan ini terus dibiarkan?!

Semoga bisa menjadi renungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s