Jangan cuma kagum

Beberapa hari lalu saya kebetulan disuguhi sebuah buku karya ust.felix yang terbaru tentang habit, isinya ringan dan bahasanyapun mudah dipahami.

Dari pesan dalam buku itu saya jadi teringat dengan ustadz saya waktu kami masih anak-anak, saat itu tepatnya kami masih duduk di Sekolah Dasar, karena berada di kampung maka tekhnologi saat itu belum menjamah kami, hari-hari yang kami laluipun penuh dengan kebersamaan, aktifitas yang kami lakukan cukup terjadwal dengan rapih walaupun kami tak pernah menyengaja menulisnya, tau kenapa karena kami dididik oleh beliau dengan sesuatu yang rutin yang membuat kami biasa seperti ini misalnya, jadwal mengaji tiap sore, malam, subuh. Malam jumat ada pengajian keliling, tiap hari minggu pun demikian dan kami merasa tiap anak di kampung kami hampir tak ada yang tidak ikut serta tau kenapa? Bukan karena sanksi atau apapun itu namun kontrol masyarakat saat itu sangat kuat, hingga ada istilah tabu kalau masih muda, remaja dan belum menikah tak ngaji.

Kadang kami kagum dengan sosok ustadz kami itu beliau masih muda lulusan dari pondok pesantren tebu ireng di jawa timur sana, Sosok pemuda yang jauh-jauh merantau ke pulau seberang hanya untuk menuntut ilmu. Bahkan saat kami mendengar kisah-kisah beliau semasa di pondok membuat kami semua tertegun seakan-akan terhipnotis oleh kisah itu. Apalagi saat kami menyimak kitab yang beliau ajarkan pada kami kitab berkertas kuning bertuliskan arab yang tak satupun bertanda namun dibaca sangat lancar dan seakan-akan beliau sedang membaca novel. Dan saat kami bertanya apapun itu akan dibahas dengan pendalilan yang meyakinkan dan mantap hingga membuat kami mengangguk serempak.

Suatu saat kami diceritakan kisah beliau saat sedang belajar disana, semua kisahnya rata-rata tak ada yang menyenangkan semua terkesan menyedihkan, namun itu lah kekuatan kata beliau.

“Sebuah perjuangan itu butuh keprihatinan, luruskan niat saat kesedihan datang karena kemudahan itu sebentar lagi akan nampak dibalik awan tebal kesulitan itu”, kata beliau.

Kefasihan beliau dalam hal agama ternyata bukan datang tiba-tiba dan juga bukan karena keturunan namun karena sebuah proses perjuangan panjang dan ketekunan yang terus diulang, bahkan sampai kini beliaupun masih terus belajar diusia yang tak bisa dibilang muda lagi.

mengutip pernyataan maseng, kita itu harus terus bertumbuh jangan puas dengan keadaan yang kamu miliki sekarang, karena akan berbeda kondisinya nanti saat masa ini bukan masamu lagi
” growing or dieying”

Bagaimana dengan kamu? masih berfikir untuk cukup?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s